Gunung Sindoro

Pada masa awal menjadi anak SMA, inilah pendakian pertama saya ke sebuah gunung di Jawa Tengah yaitu Gunung Sindoro. Gunung Sindoro merupakan sebuah gunung yang masih aktif dengan ketinggian mencapai 3.153 meter di atas permukaan air laut. Gunung ini termasuk tipe yang tergolong berat untuk didaki, namun saya malah menjadikan gunung ini sebagai gunung yang pertama saya daki.

Saat itu saya masih kelas 1 SMA dan masih polos. Saat itu adalah awal saya menyukai kegiatan di alam semenjak ikut organisasi kepencintaalaman di SMA. Di tahun 2014 silam tepatnya tanggal 3 Agustus, berbekal niat dan ajakan, saya ditawari oleh kakak kelas saya mendaki Gunung Sindoro. Pendakian ini bagi saya bukanlah pendakian main-main, namun saya memang berharap ingin mencoba mengenal sejauh mana kemampuan fisik saya terhadap dunia kepencintaalaman. Saya yakin melalui pendakian pertama tersebut bisa membantu saya dalam mengenal jati diri.

Siang itu pada pukul 13.00 WIB, kami berjumlah 10 orang yang diantaranya adalah kakak-kakak kelas saya bersiap melakukan briefing perjalanan. Setelah itu kami berangkat dengan berboncengan sepeda motor dari Kulon Progo menuju Wonosobo. Siang itu di jalan Magelang sempat motor yang saya tumpangi mendadak bannya bocor sehingga harus menunggu sekitar satu jam untuk penambalannya. Setelah kondisi motor kembali normal, kami mulai melanjutkan perjalanan.

Kami sampai di basecamp yang bernama Basecamp Kledung. Di basecamp ini hawanya terasa sangat dingin sehingga jika kita hanya berdiam diri kita akan sangat kedinginan. Untung saat sampai di sana, kami menjumpai warga yang sedang membuat semacam api unggun. Kami langsung mendekati sumber panas tersebut dan mencoba menikmatinya.
Kemudian kami mengisi perut dengan jajan semangkok bakso panas yang sungguh membuat lidah kami menari-nari. Setelah makan, kami melakukan pemanasan dengan gerakan-gerakan tubuh untuk mempersiapkan pendakian. Akhirnya, hari mulai berganti malam sehingga kami berencana melakukan pendakian malam itu juga. Perjalanan yang kami lalui terasa cukup panjang dengan bentang alam yang landai dan semakin naik. Bentuk topografi yang curam dan banyak jurang tampak akan kami lalui setelah melewati jalur di ladang tembakau.

Beberapa pos demi pos kami datangi dan lewati hingga akhirnya kami sampai di pos tiga yang sudah nampak dini hari. Di tengah malam yang dingin di pos tiga, kami bersepuluh mendirikan tenda dengan ditambah guyuran hujan gerimis yang terjadi kala itu. Malam itu juga, kami masuk dalam tenda untuk menghangatkan diri sampai tertidur. Ketika suasana kami sedang tidur pulas, kami merasakan kedatangan babi hutan yang bersuara menghampiri tenda kami. Hal itu membuat terkejut dan membangunkan semua yang ada di tenda, namun ketika kami keluar babi hutan tersebut langsung pergi. 



Di pagi harinya tanggal 4 Agustus, saya bangun tidur agak terlalu siang, sementara teman yang lain sudah di luar tenda melakukan aktivitas. Ada yang sedang menyiapkan sarapan, ada pula yang sedang mencari kayu bakar untuk menghangatkan diri. Meskipun matahari sudah terang, tetap saja rasa dingin masih hinggap di badan saya. Saya pun pergi ikut mencari kayu bakar supaya bergerak agar tubuh hangat. Ketika makanan yang dimasak telah siap, maka kami langsung menyantapnya.


Setelah selesai makan, pagi itu kami langsung membereskan tenda untuk melanjutkan pendakian berhubung kami baru mencapai pos tiga atau dapat dibilang setengah gunung tersebut. Di jalur pendakian saya menikmati pemandangan yang luar biasa yang belum pernah saya temui. Saya merasa ada di negeri di atas awan. Pandangan saya tertuju pada gagahnya Gunung Sumbing yang berhadapan langsung dengan Gunung Sindoro. Hal itu tampak di depan mata yang benar-benar membuat saya terkagum. Selain itu, panorama di kaki gunung yang di dominasi lahan pertanian warga tampak begitu harmonis kala dipandang dari ketinggian.


Selama berjalannya waktu, saya sangat menikmati pendakian tersebut hingga akhirnya bisa sampai di puncak Sindoro. Beberapa langkah sebelum kaki sampai menginjak puncak, saya mencium bau belerang yang menuju hidung saya. Sempat heran dengan baunya karena sebelumnya saya belum pernah mencium bau yang begitu menusuknya. Di atas puncak saya makin merinding melihat pemandangan yang ada di depan saya. Ternyata saya berada di depan sebuah kawah Sindoro yang sedang mengeluarkan asap belerangnya. Sebuah kawah yang berisikan air tampak mendidih berwarna kekuning-kuningan.


Di puncak, saya bisa menyaksikan langit yang luas dan gumpalan awan-awan yang saling berterbangan. Sungguh kecantikan alam yang terasa seperti dalam mimpi bisa saya amati secara langsung. Gunung Sumbing di depan saya seolah-olah menyapa kami semua yang ada di puncak Sindoro. Puncak yang begitu luasnya menarik kami untuk berfoto di spot yang sungguh luar biasa. Sabana yang dipenuhi semak-semak seolah seperti lapangan rumput sepak bola. Kami berjalan-jalan menyusuri semak-semak tersebut hingga akhirnya puas mengelilingi puncak Gunung Sindoro.


Hari yang semakin siang menandakan kami untuk harus segera turun kembali dari puncak. Hal ini dikarenakan gas belerang di kawah Sindoro semakin sore dilansir cukup beracun sehingga kami tidak ingin pendakian menjadi terganggu. Akhirnya, kami kembali turun menuju basecamp setelah sekitar lima jam perjalanan turun dari puncak Sindoro.



Pengalaman pendakian tersebut membuat saya bisa mengenal alam lebih dekat. Pendakian Gunung Sindoro cocok dijadikan rekomendasi bagi pendaki-pendaki yang menyukai tantangan. Setiap orang yang hendak mendaki ke gunung ini perlu mempersiapkan fisik lebih prima dan perlekapan yang mendukung karena keselamatan adalah nomor satu. Jika pendakian hanya asal-asalan ingatlah keluarga yang menanti di rumah. Kegiatan alam bebas memang mempunyai resiko yang besar sehingga kita harus selalu berhati-hati kapan pun dan di mana pun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar