Gunung Andong

Tanggal 10 September 2016, saya mendapat tawaran dari teman-teman saya untuk pergi berlibur ke Gunung Andong. Sebenarnya saya kurang setuju dengan tawaran itu karena cuaca baru-baru itu sedang tidak bersahabat, namun dengan tanpa paksaan saya menerima tawaran dari teman-teman saya. Hal ini bukan karena tanpa alasan, sebab saya berpikir bahwa bukit dengan label gunung tersebut tidak terlalu tinggi sehingga saya mudah tertarik menerima tawaran yang diberikan. Menurut saya tempat ini tidak cocok untuk disebut gunung karena ketinggiannya berkisar dibawah 2000 meter di atas permukaan air laut sehingga lebih cocoknya adalah bukit, namun kebanyakan orang menyebutnya Gunung Andong.

Siang itu di hari Sabtu, saya menyiapkan perlengkapan camping untuk satu malam di Gunung Andong. Setelah barang yang saya siapkan selesai, sorenya pukul 15.00 WIB saya menuju rumah teman saya untuk kumpul dahulu sebelum berangkat ke Andong. Kami packing keperluan-keperluan mulai dari konsumsi sampai barang-barang pokok untuk bermalam di gunung. Setelah dirasa selesai, kami bergegas mengambil sepeda motor untuk langsung memulai perjalanan. Tidak lupa kami berdoa dahulu sebelum berangkat. Kami berangkat ke Andong dengan berjumlah empat orang.

Kami mengambil rute dari Kulon Progo menuju Andong dengan melewati Perbukitan Menoreh. Suasana perjalanan di bawah terik sianar matahari masih terasa sore itu kala menyusuri jalan di Bukit Menoreh. Setelah itu, kami melewati Kota Magelang dan menuju ke arah Kopeng. Perjalanan mulai terasa agak naik dengan rute yang bisa dibilang cukup menguras bahan bakar. Setibanya di Basecamp Gunung Andong, kami istirahat sejenak sambil menunggu proses registrasi.

Kami di basecamp saat hari sudah cukup gelap sehingga kami mulai memutuskan untuk segera mendaki agar bisa sampai di puncak tidak terlalu malam. Perjalanan dari basecamp menuju puncak dapat dibilang cukup dekat, namun tidak ada jalan yang horizontal. Sepanjang jalan kami hanya berjalan naik tanpa ada jalan datar atau biasa disebut tanpa bonus. Di tengah jalan kami perlu fokus agar tidak salah jalan. Kejadian salah fokus sempat dialami teman saya yang tertinggal di belakang dan salah jalan, sehingga membuat kami saling mencari. Syukurlah, saya dan teman yang ada di depan dapat menemukan dua orang teman saya yang tersesat.

Setelah dua jam pendakian, kami tiba di Puncak Gunung Andong. Setibanya di atas, suhu dingin dan angin kencang menggoda sehingga kami semua menggigil dengan kompak. Dinginnya udara malam pegunungan membuat salah seorang teman saya mendadak lemah dan tidak sehat. Untungnya kami sudah sampai puncak dan segera mencari tempat untuk mendirikan tenda. Malam itu, kami semua tidur dengan nyenyak untuk mempersiapkan hari berikutnya.


Keesokan harinya, saya bangun pagi-pagi untuk menyaksikan cahaya pagi di atas puncak Andong. Udara pagi terasa lebih dingin dari malamnya sampai seluruh gigi saya bergetar-getar tidak karuan. Teman-teman saya juga merasakan hal yang sama, namun kami tetap semangat.

Cahaya matahari mulai terlihat dari ufuk timur di sela-sela Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Secercah cahaya jingga perlahan-lahan menunjukkan warnanya dengan berani. Warnanya seolah ingin mengatakan selamat pagi kepada dunia dan segala isinya. Dingin udara yang tadinya hampir membuat tubuh membeku, perlahan mulai disingkirkan oleh sinar sang surya. Pikiran terasa menjadi lebih jernih dan hati menjadi lebih semangat setelah dipancar oleh kehangatan yang diturunkannya.



Cerahnya pagi itu memberi panorama indah di sekeliling Gunung Andong. Di atas puncaknya, kami bisa menyaksikan seluruh sisi tanpa terhalang oleh apa pun. Gunung Merbabu yang gagah berdiri di sisi timur dan gumpalan asap kecil Gunung Merapi terlihat di sisi tenggara tampak menakjubkan. Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro yang berdiri tajam ke arah langit juga tampak jelas pagi itu. Selain itu, panorama daerah Magelang terlihat sangat indah dengan bukit dan lembahnya yang menyatu.   


Banyaknya pendaki membanjiri gunung ini dengan ratusan tenda yang memenuhi puncaknya sehingga terlihat semacam keramaian pasar. Banyak orang rela kedinginan demi merasakan suasana yang jauh dari pusat kota. Orang-orang tampak sangat antusias menikmati alam Gunung Andong, meskipun sangat padat dan ramai tempat ini terlihat sangat berbeda dengan hiruk-pikuk di perkotaan. Mungkin itulah yang menjadi tempat ini terasa unik oleh karena keramaiannya yang damai.


Setelah hari mulai terasa panas, di tempat ini keramaian mulai berkurang. Para pendaki mulai membereskan tendanya untuk pergi pulang. Melihat pendaki-pendaki lain turun dari puncak, di saat itulah saya menyempatkan berfoto bersama alam. Saya dan teman-teman berfoto secara bergiliran namun sedikit rebutan. Kami tetap adil untuk mendapatkan hasil foto yang kami harapkan.


Tidak terasa hari makin siang, tidak efektif juga kami terlalu lama di puncak sehingga kami berniat langsung membereskan tenda. Setelah semua terkemas dengan baik, kami pergi turun dari gunung untuk pulang. Meskipun terasa cukup singkat, liburan yang kami lakukan cukup berhasil merileksasikan penat kami. Berwisata di alam memang memberi sentuhan yang berbeda terhadap jiwa dan psikis manusia. Di Gunung Andong adalah tempat yang tepat bagi orang yang ingin berwisata sekaligus menyehatkan jiwa dan psikisnya. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar