Gunung Merapi

Pada pertengahan semester tanggal 17 September 2016, saya bersama kedua teman saya melakukan pendakian ke Gunung Merapi. Pada awalnya kami berencana akan berangkat berenam dengan teman-teman saya yang lain, namun sebagian teman saya batal ikut mendaki. Kami pun berangkat bertiga dengan tetap semangat untuk melakukan pendakian pertama ke gunung api yang terkenal masih aktif ini.

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung di Indonesia yang termasuk gunung yang pernah meletus dengan letusan terdasyat. Akibat letusannya yang dasyat, bentuk kubah lava gunung ini pun selalu mengalami perubahan berkala di tiap-tiap letusannya yang pernah terjadi. Perubahan bentuk gunung akibat kegiatan vulkanik membuat bentang alam di lereng gunung ini juga ikut berubah. Dulunya gunung ini memiliki beberapa jalur pendakian yang ada di daerah sekitarnya, namun semenjak letusan terakhirnya membuat beberapa jalur pendakian menjadi ditutup hingga kini. Jalur yang telah ditutup dilansir karena kondisi medannya yang telah berubah dan tidak memungkinkan kembali sebagai jalur pendakian. Sekarang, gunung ini pun hanya memiliki satu jalur yang masih dioperasikan sebagai jalur pendakian. Jalur tersebut bernama New Selo yang selalu ramai dipadati pendaki untuk menghabiskan liburannya di atas Gunung Merapi.

Kami berencana berangkat dari Jogja pukul 08.00 WIB dengan persiapan sebelumnya. Perjalanan kami dimulai dengan menyusuri Kota Magelang di pagi hari. Ramainya kendaraan mewarnai suasana jalan Magelang menuju Boyolali. Boyolali adalah kabupaten yang berada di Jawa Tengah yang tepat ada di Kaki Gunung Merapi dan Merbabu. Kabupaten ini memisahkan kedua gunung yang terlihat saling berdampingan tersebut. Ketika kami sampai di Boyolali, perjalanan kami arahkan menuju basecamp Merapi yang terlihat dari kejauhan bertuliskan New Selo. Di basecamp tampak beberapa orang pendaki yang sedang melakukan persiapan pendakiannya. Setelah kami memproses registrasi, kami membarengi pendaki-pendaki lain untuk naik ke Merapi bersama. Petualangan kami dimulai dengan menyusuri sebuah tempat wisata alam New Selo yang terlihat ada gardu pandang yang begitu ramai didatangi wisatawan pagi itu. Berikutnya medan jalur mulai memasuki vegetasi hutan yang menanjak hingga ke puncak.

Perjalanan dari basecamp sampai Puncak Merapi berkisar lima jam dari waktu normal. Kami sampai di batas aman pendakian Gunung Merapi dengan cuaca yang diselimuti mendung. Batas umum pendakian Merapi dikenal dengan nama Pasar Bubrah yang biasa dipakai para pendaki untuk area mendirikan tenda. Di Pasar Bubrah kami segera membangun tenda dengan sedikit terburu-buru karena hujan mulai turun semakin lebat. Rasa dingin luar biasa terasa di seluruh tubuh saya yang terlanjur terbasahi oleh guyuran hujan di saat proses pembangunan tenda. Tenda yang diguyur hujan sore itu, terdapat kami bertiga yang ada di dalamnya yang sedang memanfaatkan waktu untuk membuat kopi panas sebagai penghangat suasana. Suasana sore di ketinggian Merapi perlahan beralih mendekati malam yang semakin dingin. Hujan yang tadinya sempat turun mulai berhenti hingga munculah sosok bulan dan ribuan bintang yang nampak terang dilangit Merapi. Sungguh suatu transformasi cuaca yang sangat mengagumkan mewarnai dinginnya malam saat itu.

Sisa malam yang kami habiskan untuk tidur akhirnya telah usai dengan terbitnya mentari dari ujung timur. Pada pukul 04.00 WIB kala itu, saya bersama teman-teman berniat keluar dari tenda untuk menikmati sunrise yang perlahan menampakkan kecantikannya. Berhubung kami masih berada di Pasar Bubrah, kami merasa ingin sekali mendaki sampai Puncak Merapi. Kami sempat bertindak nekat naik menuju puncak, meskipun terpampang jelas terdapat deretan papan bertuliskan batas aman pendakian Merapi yang mengelilingi Pasar Bubrah. Sebenarnya saya sedikit kurang percaya untuk naik karena melihat kondisi jalan menuju puncak yang sudah tidak rupa jalan. Tampak medan jalur berbentuk tebing tinggi yang dipenuhi pasir beserta batu-batu yang sangat berpotensi menggelinding jatuh ke arah kami. Sebuah pikiran pesimis yang sempat melanda dengan cepat saya ganti dengan rasa berani untuk memulai berjalan memasuki area pasir menanjak tajam dengan kemiringan hampir 90 derajat. Saya bersama teman-teman dan pendaki-pendaki lain mulai menapaki lereng Puncak Merapi dengan penuh hati-hati supaya tidak salah menginjak pasir maupun batu-batunya.


Perlahan namun pasti, pandangan saya tiba-tiba terpukau oleh langit Merapi yang seketika berubah menjadi warna keemasan akibat pancaran sang surya. Ternyata mentari dari timur sedang memamerkan parasnya yang rupanya mengguncang hati saya. Saya sangat merinding ketika menyaksikan keramahan sang surya menyambut kami. Hal itu terasa seperti mimpi ketika kaki ini mulai menapaki batu terakhir yang mengantarkan saya berdiri di puncak kawah gunung api tersebut. Terasa sangat konyol saat mata memandang jalur berpasir yang barusan saya lewati di bawah sana. Rasa heran dan sedikit bangga bisa berdiri di depan kawah sang Merapi yang tak henti-hentinya mengeluarkan asap dari kawahnya. Di utara terlihat Gunung Merbabu yang terasa dekat di mata dihiasi kemilaunya yang hijau di kala disinari mentari.





Lagi-lagi Merapi masih saja membuat saya kagum dengan panorama puncaknya yang begitu menarik. Terlihat sebuah puncak bernama puncak Garuda yang secara langsung ada di depan mata yang terasa meyadarkan bahwa saya telah berada di ketinggian 2.930 meter di atas permukaan air laut. Tak henti-hentinya rasa syukur kepada keagungan Sang Pencipta melengkapi di kala kaki bisa berdiri di pinggir kawah Merapi. Kami bertiga berkesempatan memanfaatkan momment yang ada untuk berfoto bersama indahnya suasana saat itu.






Setelah cuaca di tengah terik matahari semakin panas, kami pun menyudahi kesempatan di atas Puncak Merapi. Kami berjalan turun kembali menuju tenda dengan tetap menjaga keseimbangan supaya tidak tergelincir di pasir. Sangat disayangkan saat itu ada seorang pendaki yang sedang turun bersama kami, namun tiba-tiba mengalami insiden terpeleset sehingga tubuhnya menggelinding di lereng saat turun. Saya kaget melihat langsung kejadian tersebut, sementara korban langsung ditolong oleh para pendaki yang berada di bawah. Kejadian tersebut memberi pelajaran berharga kepada kita yang berkeinginan mendaki Merapi untuk benar-benar memantabkan niatnya dengan bijak. Ketika siapa pun yang hendak mendaki Puncak Gunung Merapi tentunya tak boleh lupa untuk memikirkan resikonya. Belajar dari seorang pendaki yang jatuh, maka sebelum memutuskan mendaki sebuah gunung harus tetap mempertimbangkan keselamatan karena keselamatan adalah nomor satu. Tidak terbatas gunung apa pun itu, sebagai pendaki haruslah mengukur kemampuan fisik yang kita miliki karena mau tidak mau menjadi seorang pendaki akan berhadapan pada rimbanya alam bebas yang tidak bisa diajak bercanda. Kita harus selalu mengingat bahwa puncak gunung bukanlah tujuan utama. Tujuan yang sesungguhnya adalah pulang dengan selamat karena keluarga akan selalu menanti kita di rumah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar