Kala itu di tanggal 29 Juli 2016, disepakatilah rencana dadakan untuk
mengisi waktu luang oleh tiga orang pemuda. Salah satu dari ketiga orang itu
adalah saya sendiri. Terciptalah sebuah kesepakatan pergi ke gunung untuk
mencari udara segar jauh dari aktivitas di awal kuliah, meskipun kurang
rasional karena cukup mendadak dan kami belum melakukan banyak persiapan. Saat
itu, kami berencana untuk melakukan pendakian Gunung Prau di Jawa Tengah. Hanya
dengan waktu setengah hari, kami mencoba untuk merealisasikan rencana konyol
tersebut. Kami mempersiapkan alat-alat dan perlengkapan pendakian yang sekadar
kami punya sendiri.
Sore mulai berganti malam, kami berkumpul di suatu taman kota yang
bernama Taman Wanawinulang. Di taman tersebut kami bersiap melakukan perjalanan
menuju tempat tujuan kami. Hari telah berganti petang, sehingga kami harus
mengendarai sepeda motor dengan cukup berhati-hati. Dinginnya malam kami tembus
dengan kecepatan delapan puluh kilometer perjam dari Kota Kulon Progo menuju Basecamp Gunung Prau, Wonosobo.
Perjalanan yang kami pilih melewati rute Jalan Raya Purworejo ke utara. Tidak
terpikirkan kembali suasana dinginnya malam yang tadi hinggap di badan saya semenjak
memasuki Kota Purworejo. Udara secara tiba-tiba berubah menjadi hangat di kala
melihat suasana malam Kota Purworejo. Cahaya-cahaya lampu kota yang
bersilau-silauan terasa menghangatkan suasana bermotor saya, namun suasana
berubah kembali ketika perjalanan telah memasuki daerah Wonosobo. Kondisi jalan
juga ikut berubah menjadi semakin berliku-liku dan mulai menanjak.
Waktu empat jam di jalan terasa cepat ketika kendaraan kami telah memasuki
pintu gerbang bertuliskan “Kawasan Dieng Plateau”, namun kami tetap melanjutkan
perjalanan menuju basecamp yang
pastinya sampai sebentar lagi. Jalan semakin menanjak dan terasa sempit mulai
kami lalui dengan kondisi badan yang sudah dihinggapi udara dingin khas Dataran
Tinggi Dieng. Setelah beberapa menit, tibalah kami di basecamp yang ternyata suasananya sangat ramai oleh pendaki-pendaki
lain yang akan mendaki malam itu.
Setelah memarkirkan kendaraan, saya pun mendahului teman-teman saya menuju
ke tempat registrasi untuk membeli tiket pendakian. Tiket yang sudah saya
dapatkan saya simpan untuk keperluan pengecekan tiket oleh petugas keamanan di
tengah perjalanan kami malam itu. Setelah itu kami beristirahat selama satu jam
di basecamp yang bernama Basecamp Patak Banteng. Tepat pukul 01.00 WIB dini hari, saya
mulai merasa sangat kedinginan di sana sehingga saya memutuskan untuk segera
mengajak teman-teman saya mulai mendaki. Hawa dingin di badan secara
perlahan-lahan kami ubah dengan menciptakan panas tubuh melalui gerakan-gerakan
selama pendakian. Saat itu, saya mengajak teman-teman saya mengubah ritme
kecepatan menjadi cepat namun santai agar dapat sampai di puncak tepat waktu.
Memang benar apa yang sebelumnya saya duga, tibalah kami di puncak dengan
tepat waktu yaitu bersamaan dengan munculnya secercah bola mentari dari arah
timur. Suatu hal yang saya pikir sangat beruntung setelah selama kurang lebih
tiga jam mendaki. Lelah yang mendadak hilang ketika menyaksikan sebutir bola
mentari yang sedang menampakkan wujud aslinya. Cuaca yang sangat mendukung
cukup memberi kami semangat untuk segera mencari area kosong di sekitaran
puncak Gunung Prau. Kami memasang sebuah tenda dome di area yang sudah kami dapatkan, meskipun sebelumnya terasa
sulit karena di puncak sudah banyak pendaki yang sampai lebih dahulu memasang
tendanya.
Pagi itu, suasana sekitar camp
kami terasa sangat ramai dipadati oleh para pendaki yang sedang mencari moment untuk mendapatkan foto terbaik
dengan background Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Kedua gunung kembar
tersebut nampak berdiri gagah di hadapan mata para pendaki.
Sungguh suatu keberuntungan
ketika awan tidak menutupi seluruh panorama tersebut, namun moment tersebut ternyata tidak berlangsung
lama karena awan terlalu cepat menyelimuti kembali panorama kedua gunung
tersebut. Saya sempat kecewa karena belum sempat berfoto dengan background
indah tersebut, meskipun saya sempat memfoto suasana detik-detik sebelum
hilang.
Setelah tenda didirikan, kami bertiga menggunakan pagi itu untuk
beristirahat. Saya menikmati tidur pulas di atas gunung yang ramai tersebut
sampai siang hari. Di siangnya, saya terbangun karena mencium makanan yang
sedang dibuat oleh salah satu teman saya. Saya langsung bangun dan ikut memasak
makanan untuk sarapan sekaligus makan siang. Aroma sarden yang telah matang terasa
menusuk hidung hingga akhirnya kami bertiga mulai makan bersama-sama.
Siang hari ketika matahari tepat berada di atas kepala, kami bertiga
keluar dari tenda karena di dalam terasa panas. Kami keluar menuju tempat teduh
yang ada di puncak sisi barat. Di sana ternyata kami bisa menyaksikan langsung
pemandangan kawasan Dieng dari atas Gunung Prau. Petakan-petakan sawah tersusun
sangat rapi di bawah sana dengan balutan bukit-bukit yang berdiri harmonis di
sekitarnya. Panorama Dieng yang sungguh cantik ditambah keelokan langit yang
berwarna biru muda sangat menggoda mata saya kala itu. Jajaran awan yang
melayang-layang di langit terasa ada di samping saya. Hembusan angin sepoi-sepoi menambah kesejukan kami bertiga
di bawah pohon cemara.
Saya sempat berusaha naik ke sebuah pohon yang ada di pinggir puncak. Sebenarnya
saya tertarik untuk foto di atas pohon tersebut, namun mental saya tiba-tiba menciut ketika pandangan saya menghadap
ke bawah. Kedua teman saya langsung tertawa melihat polah iseng saya. Kemudian saya tidak jadi naik dan pergi mencari spot foto lain yang lebih bagus dan
aman.
Setelah lelah berputar-putar di puncak, kami bertiga kembali ke tenda
untuk istirahat. Berbeda dengan kedua teman saya yang sedang istirahat,
sementara saya memakai waktu tersebut untuk mengerjakan tugas OSPEK UGM. Saat
itu, pertama kalinya saya mendaki gunung sambil membawa laptop untuk keperluan tugas. Saya mengerjakan soal-soal dalam suasana
gunung berkabut yang memberi rasa sejuk melebihi rasa AC dalam ruangan. Teman-teman saya merasa heran dengan aktivitas
saya saat itu, namun mereka memaklumkannya.
Suhu udara yang semakin dingin ditambah kabut yang semakin pekat
menandakan cuaca akan buruk. Setelah dirasa hari makin berganti sore, kami
mulai membereskan dan mengemas tenda untuk segera turun dari gunung. Sebelum turun, kami meminta seorang pendaki lain untuk dimintai tolong
memfoto kami bertiga. Saya juga masih meminta untuk difoto sendiri lagi. Setelah
mendapatkan foto yang saya inginkan, saya dan teman-teman segera meninggalkan
tempat tersebut.
Di perjalanan turun, kami masih saja menemukan pemandangan yang tidak
kalah bagusnya saat berada di puncak. Kami juga masih belum puas mengabadikan setiap
panorama Dieng di sepanjang rute, hingga akhirnya baterai kamera mulai menipis
dan habis. Kami berjalan santai untuk sampai di basecamp kembali dengan selamat.
Trip kami selama dua hari satu malam di Gunung Prau ini terasa cukup
menambah pengalaman kami bertiga. Jalur pendakian Gunung Prau memang tidak
tergolong memiliki medan yang terlalu berat sehingga menjadi destinasi favorit
para wisatawan yang datang ke Dieng. Gunung Prau memang sudah tidak asing lagi di
kalangan masyarakat karena potensi wisata di sini yang bisa menarik banyak
wisatawan untuk mengunjungi Dieng. Selain karena satu kawasan dengan Dieng
tentu gunung ini menjadi primadona yang tidak boleh dilewatkan ketika
mengunjungi “Kawasan Dieng Plateau”.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar