Gunung Merbabu

Ujian nasional SMA telah selesai membuat saya tertarik mengajak teman-teman SMA untuk mendaki gunung. Saya tertarik untuk mendaki Gunung Merbabu yang berada di Jawa Tengah. Gunung Merbabu merupakan gunung dengan ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut. Gunung ini termasuk tipe gunung yang tidak aktif sehingga sangat aman untuk pendakian.

Setiap orang yang ingin mendaki Gunung Merbabu perlu mempersiapkan segala kebutuhan selama pendakian dengan baik. Kita tidak boleh mendaki gunung dalam keadaan tubuh yang sedang tidak prima karena sangat beresiko terhadap kondisi kita sendiri. Sebelum mendaki, sangat disarankan untuk berolahraga secara teratur untuk melatih kekuatan fisik. Fisik menjadi prioritas utama kita untuk mendaki sebuah gunung.

Begitu persiapan mendaki telah cukup, saya dan teman-teman berangkat dari SMA menuju daerah Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Kami berangkat pagi-pagi sekitar pukul 07.00 WIB dengan cuaca yang sangat cerah. Perjalanan kami di sepanjang jalan sangat santai karena kami tidak menargetkan waktu kapan sampai di sana. Sebelum mendaki, kami harus sampai di sebuah basecamp pendakian yang bernama Basecamp Selo. 


Sesuai namanya, kami berencana mendaki Merbabu dengan jalur Selo. Jalur tersebut merupakan jalur paling favorit bagi kalangan pendaki karena di jalurnya memiliki pemandangan terindah dibandingkan jalur Merbabu yang lain. Di jalur tersebut kita akan menjumpai dua buah sabana yang tidak jauh dari Puncak Merbabu. Sabana yang ada di Merbabu sering dijadikan  tempat favorit bagi pendaki untuk mendirikan tenda. Pendaki yang bermalam di sabana biasanya akan merasakan terpaan badai yang cukup menggangu. Biasanya datangnya badai akan mengeluarkan suara yang agak berisik sehingga mengganggu pendaki yang sedang istirahat atau tertidur. Oleh karena itu, sangat disarankan ketika hendak mendirikan tenda, kita perlu mempertimbangkan area yang aman dan sesuai.  Pemasangan tenda yang baik dapat disandingkan dekat pohon yang rimbun atau di samping semak-semak yang nantinya bisa menghalangi badai jika sewaktu-waktu datang menghempas tenda.

Saya sempat kecewa karena tidak bisa mendirikan tenda di sabana. Hal ini dikarenakan ada salah satu teman saya yang tiba-tiba hypotermia karena terlalu lama beristirahat sehingga kami harus mendirikan tenda di pos dua. Dinginnya udara pegunungan memang tidak bisa diajak bersahabat ketika kita terlalu lama berdiam tanpa bergerak. Hal ini cukup berbahaya karena jika tubuh tidak kuat menahan dinginnya udara, maka kita dapat mengalami penyakit gunung yang biasa dikenal hypotermia. Penyakit ini tidak boleh diremehkan sama sekali karena sangat mungkin bisa berakibat kematian. Melihat kondisi teman saya yang mendadak drop, saya menenangkan teman-teman yang lain supaya tidak panik. Kami harus bersikap tenang dan tetap memotivasi. Daya juang orang yang sedang terkena hypotermia sangat tergantung oleh dukungan semangat dan motivasi dari orang-orang di sekitarnya. Saat itu, kami segera memberi penanganan langsung dengan menghangatkan korban menggunakan sleeping bag.




Pagi harinya, saya bersyukur karena teman saya yang semalam sakit bisa pulih dan ceria kembali. Kami semua bangun dari tidur untuk melihat suasana pagi di pos dua. Beruntung sekali karena saat kami membuka tenda, kami langsung menyaksikan sunrise di Gunung Merbabu. Salah satu keagungan Sang Pencipta karena bisa melihat matahari yang baru muncul dari peraduannya. Matahari tampak malu-malu memancarkan sinarnya di balik kabut lembut yang sempat menutupi gunung tersebut. Sinar matahari perlahan menembus pekatnya kabut hingga semakin menjulang menerangi dunia.



Melihat kondisi teman-teman yang sudah menghabiskan waktu malamnya untuk beristirahat, saya mengajak teman-teman untuk lanjut mendaki lagi. Kami meninggalkan tenda di pos dua dan bersama-sama melakukan perjalanan untuk mencapai puncak. Tiap-tiap pos pendakian kami lewati sampai menyusuri sabana satu dan sabana dua. Di tengah perjalanan saya menikmati setiap pemandangan di kiri dan kanan saya.



Akhir dari pendakian panjang, tibalah waktu kami bisa sampai di Puncak Gunung Merbabu yang bernama Puncak Kenteng Songo. Sampai di puncak, kami sempat belok ke sisi kiri untuk menghampiri puncak lain di Gunung Merbabu yaitu Puncak Trianggulasi. Kemudian kami tertarik menikmati puncak lain yang bernama Puncak Kenteng Songo. Di Puncak Kenteng Songo kami beristirahat dengan makan sisa perbekalan sambil diselimuti hawa dingin puncak gunung. Perasaan senang tampak kami luapkan dengan bersujud dan tertawa bersama-sama. Kami berfoto di Puncak Gunung Merbabu sampai semua merasa puas.


Tidak terasa kami telah menghabiskan satu jam berdiri di atas Puncak Merbabu sehingga kami harus kembali turun menuju tenda dan pulang. Kami turun dari puncak dengan membawa kenangan yang menakjubkan untuk kami bawa pulang. Kabut yang semakin tebal dan perlahan naik ke atas lama-kelamaan menutupi setiap panorama Gunung Merbabu. Cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi hujan rintik-rintik yang menemani suasana di perjalanan pulang. Saya merasa memperoleh banyak pengalaman berharga selama mendaki bersama teman-teman SMA. Pengalaman tersebut sampai sekarang masih dalam ingatan saya hingga akhirnya kami harus berpisah untuk melanjutkan di perguruan tinggi yang berbeda-beda.
  

Gunung Merapi

Pada pertengahan semester tanggal 17 September 2016, saya bersama kedua teman saya melakukan pendakian ke Gunung Merapi. Pada awalnya kami berencana akan berangkat berenam dengan teman-teman saya yang lain, namun sebagian teman saya batal ikut mendaki. Kami pun berangkat bertiga dengan tetap semangat untuk melakukan pendakian pertama ke gunung api yang terkenal masih aktif ini.

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung di Indonesia yang termasuk gunung yang pernah meletus dengan letusan terdasyat. Akibat letusannya yang dasyat, bentuk kubah lava gunung ini pun selalu mengalami perubahan berkala di tiap-tiap letusannya yang pernah terjadi. Perubahan bentuk gunung akibat kegiatan vulkanik membuat bentang alam di lereng gunung ini juga ikut berubah. Dulunya gunung ini memiliki beberapa jalur pendakian yang ada di daerah sekitarnya, namun semenjak letusan terakhirnya membuat beberapa jalur pendakian menjadi ditutup hingga kini. Jalur yang telah ditutup dilansir karena kondisi medannya yang telah berubah dan tidak memungkinkan kembali sebagai jalur pendakian. Sekarang, gunung ini pun hanya memiliki satu jalur yang masih dioperasikan sebagai jalur pendakian. Jalur tersebut bernama New Selo yang selalu ramai dipadati pendaki untuk menghabiskan liburannya di atas Gunung Merapi.

Kami berencana berangkat dari Jogja pukul 08.00 WIB dengan persiapan sebelumnya. Perjalanan kami dimulai dengan menyusuri Kota Magelang di pagi hari. Ramainya kendaraan mewarnai suasana jalan Magelang menuju Boyolali. Boyolali adalah kabupaten yang berada di Jawa Tengah yang tepat ada di Kaki Gunung Merapi dan Merbabu. Kabupaten ini memisahkan kedua gunung yang terlihat saling berdampingan tersebut. Ketika kami sampai di Boyolali, perjalanan kami arahkan menuju basecamp Merapi yang terlihat dari kejauhan bertuliskan New Selo. Di basecamp tampak beberapa orang pendaki yang sedang melakukan persiapan pendakiannya. Setelah kami memproses registrasi, kami membarengi pendaki-pendaki lain untuk naik ke Merapi bersama. Petualangan kami dimulai dengan menyusuri sebuah tempat wisata alam New Selo yang terlihat ada gardu pandang yang begitu ramai didatangi wisatawan pagi itu. Berikutnya medan jalur mulai memasuki vegetasi hutan yang menanjak hingga ke puncak.

Perjalanan dari basecamp sampai Puncak Merapi berkisar lima jam dari waktu normal. Kami sampai di batas aman pendakian Gunung Merapi dengan cuaca yang diselimuti mendung. Batas umum pendakian Merapi dikenal dengan nama Pasar Bubrah yang biasa dipakai para pendaki untuk area mendirikan tenda. Di Pasar Bubrah kami segera membangun tenda dengan sedikit terburu-buru karena hujan mulai turun semakin lebat. Rasa dingin luar biasa terasa di seluruh tubuh saya yang terlanjur terbasahi oleh guyuran hujan di saat proses pembangunan tenda. Tenda yang diguyur hujan sore itu, terdapat kami bertiga yang ada di dalamnya yang sedang memanfaatkan waktu untuk membuat kopi panas sebagai penghangat suasana. Suasana sore di ketinggian Merapi perlahan beralih mendekati malam yang semakin dingin. Hujan yang tadinya sempat turun mulai berhenti hingga munculah sosok bulan dan ribuan bintang yang nampak terang dilangit Merapi. Sungguh suatu transformasi cuaca yang sangat mengagumkan mewarnai dinginnya malam saat itu.

Sisa malam yang kami habiskan untuk tidur akhirnya telah usai dengan terbitnya mentari dari ujung timur. Pada pukul 04.00 WIB kala itu, saya bersama teman-teman berniat keluar dari tenda untuk menikmati sunrise yang perlahan menampakkan kecantikannya. Berhubung kami masih berada di Pasar Bubrah, kami merasa ingin sekali mendaki sampai Puncak Merapi. Kami sempat bertindak nekat naik menuju puncak, meskipun terpampang jelas terdapat deretan papan bertuliskan batas aman pendakian Merapi yang mengelilingi Pasar Bubrah. Sebenarnya saya sedikit kurang percaya untuk naik karena melihat kondisi jalan menuju puncak yang sudah tidak rupa jalan. Tampak medan jalur berbentuk tebing tinggi yang dipenuhi pasir beserta batu-batu yang sangat berpotensi menggelinding jatuh ke arah kami. Sebuah pikiran pesimis yang sempat melanda dengan cepat saya ganti dengan rasa berani untuk memulai berjalan memasuki area pasir menanjak tajam dengan kemiringan hampir 90 derajat. Saya bersama teman-teman dan pendaki-pendaki lain mulai menapaki lereng Puncak Merapi dengan penuh hati-hati supaya tidak salah menginjak pasir maupun batu-batunya.


Perlahan namun pasti, pandangan saya tiba-tiba terpukau oleh langit Merapi yang seketika berubah menjadi warna keemasan akibat pancaran sang surya. Ternyata mentari dari timur sedang memamerkan parasnya yang rupanya mengguncang hati saya. Saya sangat merinding ketika menyaksikan keramahan sang surya menyambut kami. Hal itu terasa seperti mimpi ketika kaki ini mulai menapaki batu terakhir yang mengantarkan saya berdiri di puncak kawah gunung api tersebut. Terasa sangat konyol saat mata memandang jalur berpasir yang barusan saya lewati di bawah sana. Rasa heran dan sedikit bangga bisa berdiri di depan kawah sang Merapi yang tak henti-hentinya mengeluarkan asap dari kawahnya. Di utara terlihat Gunung Merbabu yang terasa dekat di mata dihiasi kemilaunya yang hijau di kala disinari mentari.





Lagi-lagi Merapi masih saja membuat saya kagum dengan panorama puncaknya yang begitu menarik. Terlihat sebuah puncak bernama puncak Garuda yang secara langsung ada di depan mata yang terasa meyadarkan bahwa saya telah berada di ketinggian 2.930 meter di atas permukaan air laut. Tak henti-hentinya rasa syukur kepada keagungan Sang Pencipta melengkapi di kala kaki bisa berdiri di pinggir kawah Merapi. Kami bertiga berkesempatan memanfaatkan momment yang ada untuk berfoto bersama indahnya suasana saat itu.






Setelah cuaca di tengah terik matahari semakin panas, kami pun menyudahi kesempatan di atas Puncak Merapi. Kami berjalan turun kembali menuju tenda dengan tetap menjaga keseimbangan supaya tidak tergelincir di pasir. Sangat disayangkan saat itu ada seorang pendaki yang sedang turun bersama kami, namun tiba-tiba mengalami insiden terpeleset sehingga tubuhnya menggelinding di lereng saat turun. Saya kaget melihat langsung kejadian tersebut, sementara korban langsung ditolong oleh para pendaki yang berada di bawah. Kejadian tersebut memberi pelajaran berharga kepada kita yang berkeinginan mendaki Merapi untuk benar-benar memantabkan niatnya dengan bijak. Ketika siapa pun yang hendak mendaki Puncak Gunung Merapi tentunya tak boleh lupa untuk memikirkan resikonya. Belajar dari seorang pendaki yang jatuh, maka sebelum memutuskan mendaki sebuah gunung harus tetap mempertimbangkan keselamatan karena keselamatan adalah nomor satu. Tidak terbatas gunung apa pun itu, sebagai pendaki haruslah mengukur kemampuan fisik yang kita miliki karena mau tidak mau menjadi seorang pendaki akan berhadapan pada rimbanya alam bebas yang tidak bisa diajak bercanda. Kita harus selalu mengingat bahwa puncak gunung bukanlah tujuan utama. Tujuan yang sesungguhnya adalah pulang dengan selamat karena keluarga akan selalu menanti kita di rumah.


Gunung Sindoro

Pada masa awal menjadi anak SMA, inilah pendakian pertama saya ke sebuah gunung di Jawa Tengah yaitu Gunung Sindoro. Gunung Sindoro merupakan sebuah gunung yang masih aktif dengan ketinggian mencapai 3.153 meter di atas permukaan air laut. Gunung ini termasuk tipe yang tergolong berat untuk didaki, namun saya malah menjadikan gunung ini sebagai gunung yang pertama saya daki.

Saat itu saya masih kelas 1 SMA dan masih polos. Saat itu adalah awal saya menyukai kegiatan di alam semenjak ikut organisasi kepencintaalaman di SMA. Di tahun 2014 silam tepatnya tanggal 3 Agustus, berbekal niat dan ajakan, saya ditawari oleh kakak kelas saya mendaki Gunung Sindoro. Pendakian ini bagi saya bukanlah pendakian main-main, namun saya memang berharap ingin mencoba mengenal sejauh mana kemampuan fisik saya terhadap dunia kepencintaalaman. Saya yakin melalui pendakian pertama tersebut bisa membantu saya dalam mengenal jati diri.

Siang itu pada pukul 13.00 WIB, kami berjumlah 10 orang yang diantaranya adalah kakak-kakak kelas saya bersiap melakukan briefing perjalanan. Setelah itu kami berangkat dengan berboncengan sepeda motor dari Kulon Progo menuju Wonosobo. Siang itu di jalan Magelang sempat motor yang saya tumpangi mendadak bannya bocor sehingga harus menunggu sekitar satu jam untuk penambalannya. Setelah kondisi motor kembali normal, kami mulai melanjutkan perjalanan.

Kami sampai di basecamp yang bernama Basecamp Kledung. Di basecamp ini hawanya terasa sangat dingin sehingga jika kita hanya berdiam diri kita akan sangat kedinginan. Untung saat sampai di sana, kami menjumpai warga yang sedang membuat semacam api unggun. Kami langsung mendekati sumber panas tersebut dan mencoba menikmatinya.
Kemudian kami mengisi perut dengan jajan semangkok bakso panas yang sungguh membuat lidah kami menari-nari. Setelah makan, kami melakukan pemanasan dengan gerakan-gerakan tubuh untuk mempersiapkan pendakian. Akhirnya, hari mulai berganti malam sehingga kami berencana melakukan pendakian malam itu juga. Perjalanan yang kami lalui terasa cukup panjang dengan bentang alam yang landai dan semakin naik. Bentuk topografi yang curam dan banyak jurang tampak akan kami lalui setelah melewati jalur di ladang tembakau.

Beberapa pos demi pos kami datangi dan lewati hingga akhirnya kami sampai di pos tiga yang sudah nampak dini hari. Di tengah malam yang dingin di pos tiga, kami bersepuluh mendirikan tenda dengan ditambah guyuran hujan gerimis yang terjadi kala itu. Malam itu juga, kami masuk dalam tenda untuk menghangatkan diri sampai tertidur. Ketika suasana kami sedang tidur pulas, kami merasakan kedatangan babi hutan yang bersuara menghampiri tenda kami. Hal itu membuat terkejut dan membangunkan semua yang ada di tenda, namun ketika kami keluar babi hutan tersebut langsung pergi. 



Di pagi harinya tanggal 4 Agustus, saya bangun tidur agak terlalu siang, sementara teman yang lain sudah di luar tenda melakukan aktivitas. Ada yang sedang menyiapkan sarapan, ada pula yang sedang mencari kayu bakar untuk menghangatkan diri. Meskipun matahari sudah terang, tetap saja rasa dingin masih hinggap di badan saya. Saya pun pergi ikut mencari kayu bakar supaya bergerak agar tubuh hangat. Ketika makanan yang dimasak telah siap, maka kami langsung menyantapnya.


Setelah selesai makan, pagi itu kami langsung membereskan tenda untuk melanjutkan pendakian berhubung kami baru mencapai pos tiga atau dapat dibilang setengah gunung tersebut. Di jalur pendakian saya menikmati pemandangan yang luar biasa yang belum pernah saya temui. Saya merasa ada di negeri di atas awan. Pandangan saya tertuju pada gagahnya Gunung Sumbing yang berhadapan langsung dengan Gunung Sindoro. Hal itu tampak di depan mata yang benar-benar membuat saya terkagum. Selain itu, panorama di kaki gunung yang di dominasi lahan pertanian warga tampak begitu harmonis kala dipandang dari ketinggian.


Selama berjalannya waktu, saya sangat menikmati pendakian tersebut hingga akhirnya bisa sampai di puncak Sindoro. Beberapa langkah sebelum kaki sampai menginjak puncak, saya mencium bau belerang yang menuju hidung saya. Sempat heran dengan baunya karena sebelumnya saya belum pernah mencium bau yang begitu menusuknya. Di atas puncak saya makin merinding melihat pemandangan yang ada di depan saya. Ternyata saya berada di depan sebuah kawah Sindoro yang sedang mengeluarkan asap belerangnya. Sebuah kawah yang berisikan air tampak mendidih berwarna kekuning-kuningan.


Di puncak, saya bisa menyaksikan langit yang luas dan gumpalan awan-awan yang saling berterbangan. Sungguh kecantikan alam yang terasa seperti dalam mimpi bisa saya amati secara langsung. Gunung Sumbing di depan saya seolah-olah menyapa kami semua yang ada di puncak Sindoro. Puncak yang begitu luasnya menarik kami untuk berfoto di spot yang sungguh luar biasa. Sabana yang dipenuhi semak-semak seolah seperti lapangan rumput sepak bola. Kami berjalan-jalan menyusuri semak-semak tersebut hingga akhirnya puas mengelilingi puncak Gunung Sindoro.


Hari yang semakin siang menandakan kami untuk harus segera turun kembali dari puncak. Hal ini dikarenakan gas belerang di kawah Sindoro semakin sore dilansir cukup beracun sehingga kami tidak ingin pendakian menjadi terganggu. Akhirnya, kami kembali turun menuju basecamp setelah sekitar lima jam perjalanan turun dari puncak Sindoro.



Pengalaman pendakian tersebut membuat saya bisa mengenal alam lebih dekat. Pendakian Gunung Sindoro cocok dijadikan rekomendasi bagi pendaki-pendaki yang menyukai tantangan. Setiap orang yang hendak mendaki ke gunung ini perlu mempersiapkan fisik lebih prima dan perlekapan yang mendukung karena keselamatan adalah nomor satu. Jika pendakian hanya asal-asalan ingatlah keluarga yang menanti di rumah. Kegiatan alam bebas memang mempunyai resiko yang besar sehingga kita harus selalu berhati-hati kapan pun dan di mana pun.

Gunung Andong

Tanggal 10 September 2016, saya mendapat tawaran dari teman-teman saya untuk pergi berlibur ke Gunung Andong. Sebenarnya saya kurang setuju dengan tawaran itu karena cuaca baru-baru itu sedang tidak bersahabat, namun dengan tanpa paksaan saya menerima tawaran dari teman-teman saya. Hal ini bukan karena tanpa alasan, sebab saya berpikir bahwa bukit dengan label gunung tersebut tidak terlalu tinggi sehingga saya mudah tertarik menerima tawaran yang diberikan. Menurut saya tempat ini tidak cocok untuk disebut gunung karena ketinggiannya berkisar dibawah 2000 meter di atas permukaan air laut sehingga lebih cocoknya adalah bukit, namun kebanyakan orang menyebutnya Gunung Andong.

Siang itu di hari Sabtu, saya menyiapkan perlengkapan camping untuk satu malam di Gunung Andong. Setelah barang yang saya siapkan selesai, sorenya pukul 15.00 WIB saya menuju rumah teman saya untuk kumpul dahulu sebelum berangkat ke Andong. Kami packing keperluan-keperluan mulai dari konsumsi sampai barang-barang pokok untuk bermalam di gunung. Setelah dirasa selesai, kami bergegas mengambil sepeda motor untuk langsung memulai perjalanan. Tidak lupa kami berdoa dahulu sebelum berangkat. Kami berangkat ke Andong dengan berjumlah empat orang.

Kami mengambil rute dari Kulon Progo menuju Andong dengan melewati Perbukitan Menoreh. Suasana perjalanan di bawah terik sianar matahari masih terasa sore itu kala menyusuri jalan di Bukit Menoreh. Setelah itu, kami melewati Kota Magelang dan menuju ke arah Kopeng. Perjalanan mulai terasa agak naik dengan rute yang bisa dibilang cukup menguras bahan bakar. Setibanya di Basecamp Gunung Andong, kami istirahat sejenak sambil menunggu proses registrasi.

Kami di basecamp saat hari sudah cukup gelap sehingga kami mulai memutuskan untuk segera mendaki agar bisa sampai di puncak tidak terlalu malam. Perjalanan dari basecamp menuju puncak dapat dibilang cukup dekat, namun tidak ada jalan yang horizontal. Sepanjang jalan kami hanya berjalan naik tanpa ada jalan datar atau biasa disebut tanpa bonus. Di tengah jalan kami perlu fokus agar tidak salah jalan. Kejadian salah fokus sempat dialami teman saya yang tertinggal di belakang dan salah jalan, sehingga membuat kami saling mencari. Syukurlah, saya dan teman yang ada di depan dapat menemukan dua orang teman saya yang tersesat.

Setelah dua jam pendakian, kami tiba di Puncak Gunung Andong. Setibanya di atas, suhu dingin dan angin kencang menggoda sehingga kami semua menggigil dengan kompak. Dinginnya udara malam pegunungan membuat salah seorang teman saya mendadak lemah dan tidak sehat. Untungnya kami sudah sampai puncak dan segera mencari tempat untuk mendirikan tenda. Malam itu, kami semua tidur dengan nyenyak untuk mempersiapkan hari berikutnya.


Keesokan harinya, saya bangun pagi-pagi untuk menyaksikan cahaya pagi di atas puncak Andong. Udara pagi terasa lebih dingin dari malamnya sampai seluruh gigi saya bergetar-getar tidak karuan. Teman-teman saya juga merasakan hal yang sama, namun kami tetap semangat.

Cahaya matahari mulai terlihat dari ufuk timur di sela-sela Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Secercah cahaya jingga perlahan-lahan menunjukkan warnanya dengan berani. Warnanya seolah ingin mengatakan selamat pagi kepada dunia dan segala isinya. Dingin udara yang tadinya hampir membuat tubuh membeku, perlahan mulai disingkirkan oleh sinar sang surya. Pikiran terasa menjadi lebih jernih dan hati menjadi lebih semangat setelah dipancar oleh kehangatan yang diturunkannya.



Cerahnya pagi itu memberi panorama indah di sekeliling Gunung Andong. Di atas puncaknya, kami bisa menyaksikan seluruh sisi tanpa terhalang oleh apa pun. Gunung Merbabu yang gagah berdiri di sisi timur dan gumpalan asap kecil Gunung Merapi terlihat di sisi tenggara tampak menakjubkan. Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro yang berdiri tajam ke arah langit juga tampak jelas pagi itu. Selain itu, panorama daerah Magelang terlihat sangat indah dengan bukit dan lembahnya yang menyatu.   


Banyaknya pendaki membanjiri gunung ini dengan ratusan tenda yang memenuhi puncaknya sehingga terlihat semacam keramaian pasar. Banyak orang rela kedinginan demi merasakan suasana yang jauh dari pusat kota. Orang-orang tampak sangat antusias menikmati alam Gunung Andong, meskipun sangat padat dan ramai tempat ini terlihat sangat berbeda dengan hiruk-pikuk di perkotaan. Mungkin itulah yang menjadi tempat ini terasa unik oleh karena keramaiannya yang damai.


Setelah hari mulai terasa panas, di tempat ini keramaian mulai berkurang. Para pendaki mulai membereskan tendanya untuk pergi pulang. Melihat pendaki-pendaki lain turun dari puncak, di saat itulah saya menyempatkan berfoto bersama alam. Saya dan teman-teman berfoto secara bergiliran namun sedikit rebutan. Kami tetap adil untuk mendapatkan hasil foto yang kami harapkan.


Tidak terasa hari makin siang, tidak efektif juga kami terlalu lama di puncak sehingga kami berniat langsung membereskan tenda. Setelah semua terkemas dengan baik, kami pergi turun dari gunung untuk pulang. Meskipun terasa cukup singkat, liburan yang kami lakukan cukup berhasil merileksasikan penat kami. Berwisata di alam memang memberi sentuhan yang berbeda terhadap jiwa dan psikis manusia. Di Gunung Andong adalah tempat yang tepat bagi orang yang ingin berwisata sekaligus menyehatkan jiwa dan psikisnya. 




Gunung Prau

Kala itu di tanggal 29 Juli 2016, disepakatilah rencana dadakan untuk mengisi waktu luang oleh tiga orang pemuda. Salah satu dari ketiga orang itu adalah saya sendiri. Terciptalah sebuah kesepakatan pergi ke gunung untuk mencari udara segar jauh dari aktivitas di awal kuliah, meskipun kurang rasional karena cukup mendadak dan kami belum melakukan banyak persiapan. Saat itu, kami berencana untuk melakukan pendakian Gunung Prau di Jawa Tengah. Hanya dengan waktu setengah hari, kami mencoba untuk merealisasikan rencana konyol tersebut. Kami mempersiapkan alat-alat dan perlengkapan pendakian yang sekadar kami punya sendiri.

Sore mulai berganti malam, kami berkumpul di suatu taman kota yang bernama Taman Wanawinulang. Di taman tersebut kami bersiap melakukan perjalanan menuju tempat tujuan kami. Hari telah berganti petang, sehingga kami harus mengendarai sepeda motor dengan cukup berhati-hati. Dinginnya malam kami tembus dengan kecepatan delapan puluh kilometer perjam dari Kota Kulon Progo menuju Basecamp Gunung Prau, Wonosobo.

Perjalanan yang kami pilih melewati rute Jalan Raya Purworejo ke utara. Tidak terpikirkan kembali suasana dinginnya malam yang tadi hinggap di badan saya semenjak memasuki Kota Purworejo. Udara secara tiba-tiba berubah menjadi hangat di kala melihat suasana malam Kota Purworejo. Cahaya-cahaya lampu kota yang bersilau-silauan terasa menghangatkan suasana bermotor saya, namun suasana berubah kembali ketika perjalanan telah memasuki daerah Wonosobo. Kondisi jalan juga ikut berubah menjadi semakin berliku-liku dan mulai menanjak.

Waktu empat jam di jalan terasa cepat ketika kendaraan kami telah memasuki pintu gerbang bertuliskan “Kawasan Dieng Plateau”, namun kami tetap melanjutkan perjalanan menuju basecamp yang pastinya sampai sebentar lagi. Jalan semakin menanjak dan terasa sempit mulai kami lalui dengan kondisi badan yang sudah dihinggapi udara dingin khas Dataran Tinggi Dieng. Setelah beberapa menit, tibalah kami di basecamp yang ternyata suasananya sangat ramai oleh pendaki-pendaki lain yang akan mendaki malam itu.


Setelah memarkirkan kendaraan, saya pun mendahului teman-teman saya menuju ke tempat registrasi untuk membeli tiket pendakian. Tiket yang sudah saya dapatkan saya simpan untuk keperluan pengecekan tiket oleh petugas keamanan di tengah perjalanan kami malam itu. Setelah itu kami beristirahat selama satu jam di basecamp yang bernama Basecamp Patak Banteng. Tepat pukul 01.00 WIB dini hari, saya mulai merasa sangat kedinginan di sana sehingga saya memutuskan untuk segera mengajak teman-teman saya mulai mendaki. Hawa dingin di badan secara perlahan-lahan kami ubah dengan menciptakan panas tubuh melalui gerakan-gerakan selama pendakian. Saat itu, saya mengajak teman-teman saya mengubah ritme kecepatan menjadi cepat namun santai agar dapat sampai di puncak tepat waktu.


Memang benar apa yang sebelumnya saya duga, tibalah kami di puncak dengan tepat waktu yaitu bersamaan dengan munculnya secercah bola mentari dari arah timur. Suatu hal yang saya pikir sangat beruntung setelah selama kurang lebih tiga jam mendaki. Lelah yang mendadak hilang ketika menyaksikan sebutir bola mentari yang sedang menampakkan wujud aslinya. Cuaca yang sangat mendukung cukup memberi kami semangat untuk segera mencari area kosong di sekitaran puncak Gunung Prau. Kami memasang sebuah tenda dome di area yang sudah kami dapatkan, meskipun sebelumnya terasa sulit karena di puncak sudah banyak pendaki yang sampai lebih dahulu memasang tendanya.


Pagi itu, suasana sekitar camp kami terasa sangat ramai dipadati oleh para pendaki yang sedang mencari moment untuk mendapatkan foto terbaik dengan background Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Kedua gunung kembar tersebut nampak berdiri gagah di hadapan mata para pendaki. 


Sungguh suatu keberuntungan ketika awan tidak menutupi seluruh panorama tersebut, namun moment tersebut ternyata tidak berlangsung lama karena awan terlalu cepat menyelimuti kembali panorama kedua gunung tersebut. Saya sempat kecewa karena belum sempat berfoto dengan background indah tersebut, meskipun saya sempat memfoto suasana detik-detik sebelum hilang.


Setelah tenda didirikan, kami bertiga menggunakan pagi itu untuk beristirahat. Saya menikmati tidur pulas di atas gunung yang ramai tersebut sampai siang hari. Di siangnya, saya terbangun karena mencium makanan yang sedang dibuat oleh salah satu teman saya. Saya langsung bangun dan ikut memasak makanan untuk sarapan sekaligus makan siang. Aroma sarden yang telah matang terasa menusuk hidung hingga akhirnya kami bertiga mulai makan bersama-sama.


Siang hari ketika matahari tepat berada di atas kepala, kami bertiga keluar dari tenda karena di dalam terasa panas. Kami keluar menuju tempat teduh yang ada di puncak sisi barat. Di sana ternyata kami bisa menyaksikan langsung pemandangan kawasan Dieng dari atas Gunung Prau. Petakan-petakan sawah tersusun sangat rapi di bawah sana dengan balutan bukit-bukit yang berdiri harmonis di sekitarnya. Panorama Dieng yang sungguh cantik ditambah keelokan langit yang berwarna biru muda sangat menggoda mata saya kala itu. Jajaran awan yang melayang-layang di langit terasa ada di samping saya. Hembusan angin sepoi-sepoi menambah kesejukan kami bertiga di bawah pohon cemara.


Saya sempat berusaha naik ke sebuah pohon yang ada di pinggir puncak. Sebenarnya saya tertarik untuk foto di atas pohon tersebut, namun mental saya tiba-tiba menciut ketika pandangan saya menghadap ke bawah. Kedua teman saya langsung tertawa melihat polah iseng saya. Kemudian saya tidak jadi naik dan pergi mencari spot foto lain yang lebih bagus dan aman.



Setelah lelah berputar-putar di puncak, kami bertiga kembali ke tenda untuk istirahat. Berbeda dengan kedua teman saya yang sedang istirahat, sementara saya memakai waktu tersebut untuk mengerjakan tugas OSPEK UGM. Saat itu, pertama kalinya saya mendaki gunung sambil membawa laptop untuk keperluan tugas. Saya mengerjakan soal-soal dalam suasana gunung berkabut yang memberi rasa sejuk melebihi rasa AC dalam ruangan. Teman-teman saya merasa heran dengan aktivitas saya saat itu, namun mereka memaklumkannya.



Suhu udara yang semakin dingin ditambah kabut yang semakin pekat menandakan cuaca akan buruk. Setelah dirasa hari makin berganti sore, kami mulai membereskan dan mengemas tenda untuk segera turun dari gunung. Sebelum turun, kami meminta seorang pendaki lain untuk dimintai tolong memfoto kami bertiga. Saya juga masih meminta untuk difoto sendiri lagi. Setelah mendapatkan foto yang saya inginkan, saya dan teman-teman segera meninggalkan tempat tersebut.


Di perjalanan turun, kami masih saja menemukan pemandangan yang tidak kalah bagusnya saat berada di puncak. Kami juga masih belum puas mengabadikan setiap panorama Dieng di sepanjang rute, hingga akhirnya baterai kamera mulai menipis dan habis. Kami berjalan santai untuk sampai di basecamp kembali dengan selamat.


Trip kami selama dua hari satu malam di Gunung Prau ini terasa cukup menambah pengalaman kami bertiga. Jalur pendakian Gunung Prau memang tidak tergolong memiliki medan yang terlalu berat sehingga menjadi destinasi favorit para wisatawan yang datang ke Dieng. Gunung Prau memang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat karena potensi wisata di sini yang bisa menarik banyak wisatawan untuk mengunjungi Dieng. Selain karena satu kawasan dengan Dieng tentu gunung ini menjadi primadona yang tidak boleh dilewatkan ketika mengunjungi “Kawasan Dieng Plateau”.