Ujian nasional SMA telah selesai membuat saya
tertarik mengajak teman-teman SMA untuk mendaki gunung. Saya tertarik untuk
mendaki Gunung Merbabu yang berada di Jawa Tengah. Gunung Merbabu merupakan gunung
dengan ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut. Gunung ini termasuk
tipe gunung yang tidak aktif sehingga sangat aman untuk pendakian.
Setiap orang yang ingin mendaki Gunung
Merbabu perlu mempersiapkan segala kebutuhan selama pendakian dengan baik. Kita
tidak boleh mendaki gunung dalam keadaan tubuh yang sedang tidak prima karena
sangat beresiko terhadap kondisi kita sendiri. Sebelum mendaki, sangat
disarankan untuk berolahraga secara teratur untuk melatih kekuatan fisik. Fisik
menjadi prioritas utama kita untuk mendaki sebuah gunung.
Begitu persiapan mendaki telah cukup, saya
dan teman-teman berangkat dari SMA menuju daerah Selo, Boyolali, Jawa Tengah.
Kami berangkat pagi-pagi sekitar pukul 07.00 WIB dengan cuaca yang sangat
cerah. Perjalanan kami di sepanjang jalan sangat santai karena kami tidak
menargetkan waktu kapan sampai di sana. Sebelum mendaki, kami harus sampai di
sebuah basecamp pendakian yang
bernama Basecamp Selo.
Sesuai namanya, kami berencana mendaki Merbabu dengan jalur Selo. Jalur tersebut merupakan jalur paling favorit bagi kalangan pendaki karena di jalurnya memiliki pemandangan terindah dibandingkan jalur Merbabu yang lain. Di jalur tersebut kita akan menjumpai dua buah sabana yang tidak jauh dari Puncak Merbabu. Sabana yang ada di Merbabu sering dijadikan tempat favorit bagi pendaki untuk mendirikan tenda. Pendaki yang bermalam di sabana biasanya akan merasakan terpaan badai yang cukup menggangu. Biasanya datangnya badai akan mengeluarkan suara yang agak berisik sehingga mengganggu pendaki yang sedang istirahat atau tertidur. Oleh karena itu, sangat disarankan ketika hendak mendirikan tenda, kita perlu mempertimbangkan area yang aman dan sesuai. Pemasangan tenda yang baik dapat disandingkan dekat pohon yang rimbun atau di samping semak-semak yang nantinya bisa menghalangi badai jika sewaktu-waktu datang menghempas tenda.
Saya sempat kecewa karena tidak bisa mendirikan tenda di sabana. Hal ini dikarenakan ada salah satu teman saya yang tiba-tiba hypotermia karena terlalu lama beristirahat sehingga kami harus mendirikan tenda di pos dua. Dinginnya udara pegunungan memang tidak bisa diajak bersahabat ketika kita terlalu lama berdiam tanpa bergerak. Hal ini cukup berbahaya karena jika tubuh tidak kuat menahan dinginnya udara, maka kita dapat mengalami penyakit gunung yang biasa dikenal hypotermia. Penyakit ini tidak boleh diremehkan sama sekali karena sangat mungkin bisa berakibat kematian. Melihat kondisi teman saya yang mendadak drop, saya menenangkan teman-teman yang lain supaya tidak panik. Kami harus bersikap tenang dan tetap memotivasi. Daya juang orang yang sedang terkena hypotermia sangat tergantung oleh dukungan semangat dan motivasi dari orang-orang di sekitarnya. Saat itu, kami segera memberi penanganan langsung dengan menghangatkan korban menggunakan sleeping bag.
Pagi harinya, saya bersyukur karena teman saya yang semalam sakit bisa pulih dan ceria kembali. Kami semua bangun dari tidur untuk melihat suasana pagi di pos dua. Beruntung sekali karena saat kami membuka tenda, kami langsung menyaksikan sunrise di Gunung Merbabu. Salah satu keagungan Sang Pencipta karena bisa melihat matahari yang baru muncul dari peraduannya. Matahari tampak malu-malu memancarkan sinarnya di balik kabut lembut yang sempat menutupi gunung tersebut. Sinar matahari perlahan menembus pekatnya kabut hingga semakin menjulang menerangi dunia.
Melihat kondisi teman-teman yang sudah menghabiskan waktu malamnya untuk beristirahat, saya mengajak teman-teman untuk lanjut mendaki lagi. Kami meninggalkan tenda di pos dua dan bersama-sama melakukan perjalanan untuk mencapai puncak. Tiap-tiap pos pendakian kami lewati sampai menyusuri sabana satu dan sabana dua. Di tengah perjalanan saya menikmati setiap pemandangan di kiri dan kanan saya.
Akhir dari pendakian panjang, tibalah waktu kami bisa sampai di Puncak Gunung Merbabu yang bernama Puncak Kenteng Songo. Sampai di puncak, kami sempat belok ke sisi kiri untuk menghampiri puncak lain di Gunung Merbabu yaitu Puncak Trianggulasi. Kemudian kami tertarik menikmati puncak lain yang bernama Puncak Kenteng Songo. Di Puncak Kenteng Songo kami beristirahat dengan makan sisa perbekalan sambil diselimuti hawa dingin puncak gunung. Perasaan senang tampak kami luapkan dengan bersujud dan tertawa bersama-sama. Kami berfoto di Puncak Gunung Merbabu sampai semua merasa puas.
Tidak terasa kami telah menghabiskan satu jam berdiri di atas Puncak Merbabu sehingga kami harus kembali turun menuju tenda dan pulang. Kami turun dari puncak dengan membawa kenangan yang menakjubkan untuk kami bawa pulang. Kabut yang semakin tebal dan perlahan naik ke atas lama-kelamaan menutupi setiap panorama Gunung Merbabu. Cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi hujan rintik-rintik yang menemani suasana di perjalanan pulang. Saya merasa memperoleh banyak pengalaman berharga selama mendaki bersama teman-teman SMA. Pengalaman tersebut sampai sekarang masih dalam ingatan saya hingga akhirnya kami harus berpisah untuk melanjutkan di perguruan tinggi yang berbeda-beda.












